Langit senja memancarkan warna jingga keemasan saat Nadine melangkah memasuki kampus dengan ekspresi kesal. Hari itu, ia kembali harus bertemu dengan Reza, pria yang paling menyebalkan dalam hidupnya. Sejak pertama kali bertemu di organisasi kampus, keduanya tak pernah akur. Reza selalu merasa lebih unggul, sementara Nadine tak mau kalah.

“Kalau kamu tidak bisa mengurus proposal ini dengan benar, lebih baik mundur saja,” ujar Reza dengan nada meremehkan saat mereka sedang rapat.

Nadine mendengus kesal. “Tenang saja, aku tidak akan membiarkan seseorang seperti kamu menganggapku tidak kompeten.”

Hubungan mereka seperti api dan minyak, tak pernah bisa menyatu tanpa menimbulkan percikan. Tapi segalanya mulai berubah saat kampus mengirim mereka berdua sebagai perwakilan dalam perlombaan nasional. Mau tak mau, mereka harus bekerja sama.

Hari-hari berlalu dengan diskusi yang diwarnai perdebatan. Namun, ada momen-momen kecil yang mengubah cara pandang mereka satu sama lain. Seperti saat Nadine melihat Reza membantu seorang mahasiswa baru yang kesulitan, atau ketika Reza menemukan Nadine tertidur di perpustakaan dengan tumpukan buku di sekelilingnya.

Suatu malam, mereka harus menyelesaikan laporan di atap gedung kampus karena semua ruang kelas penuh. Angin malam yang sejuk membuat mereka berbincang lebih santai dari biasanya.

“Kamu selalu bekerja sekeras ini?” tanya Reza, mengamati Nadine yang sibuk mengetik.

Nadine menoleh. “Aku hanya ingin membuktikan kalau aku bisa.”

Reza tersenyum tipis. “Aku tahu kamu bisa. Aku hanya sering kesal karena kamu selalu ingin membuktikan segalanya padaku.”

Nadine terdiam, menyadari bahwa mungkin selama ini ia terlalu fokus bersaing, tanpa benar-benar memahami bahwa Reza bukan musuh yang harus dikalahkan.

Sejak malam itu, sesuatu berubah di antara mereka. Pertengkaran mereka masih ada, tapi bukan lagi karena kebencian—melainkan sebagai bentuk perhatian. Perlahan, keduanya menyadari bahwa api yang selama ini membakar kebencian mereka telah berubah menjadi api yang menghangatkan hati.

Hingga akhirnya, setelah perlombaan berakhir dengan kemenangan mereka, Reza menatap Nadine dengan senyum khasnya. “Jadi, masih benci aku?”

Nadine menahan senyumnya. “Mungkin tidak lagi.”

Dan di bawah langit malam yang bertabur bintang, untuk pertama kalinya, Reza menggenggam tangan Nadine dengan erat, menandai akhir dari permusuhan mereka dan awal dari sesuatu yang jauh lebih indah.